Batubara

Analisis Bocoran RKAB 2026: Strategi Pangkas Produksi dan Emiten Batubara Paling Tangguh

Analisis Bocoran RKAB 2026: Strategi Pangkas Produksi dan Emiten Batubara Paling Tangguh
Analisis Bocoran RKAB 2026: Strategi Pangkas Produksi dan Emiten Batubara Paling Tangguh

JAKARTA - Pasar komoditas energi nasional tengah diguncang oleh beredarnya bocoran hasil Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan sinyal kuat untuk memperketat keran suplai batubara nasional. Langkah ini diprediksi akan mengubah peta persaingan emiten emas hitam di bursa, di mana hanya segelintir pemain besar yang mampu mempertahankan volume produksinya di tengah pemangkasan masal.

Kembalinya mekanisme persetujuan tahunan—menggantikan skema tiga tahunan—menjadi instrumen pemerintah untuk mengendalikan pasar. Target produksi nasional diproyeksikan merosot ke level 600 juta ton, sebuah kontraksi tajam sebesar 24% dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa penyesuaian ini merupakan langkah strategis untuk menstabilkan harga komoditas di tingkat global.

Efek Domino Suplai Global dan Reaksi Harga Pasar

Pengurangan produksi sebesar hampir 200 juta ton oleh Indonesia bukan perkara kecil. Mengingat peran Indonesia sebagai eksportir utama, pengurangan suplai ini diperkirakan akan memangkas ketersediaan batubara di pasar global hingga 10%. Secara teoretis, kelangkaan ini menjadi katalis positif bagi penguatan harga.

Respons pasar pun mulai terlihat. Harga batubara dunia (ICE Newcastle) telah mencatatkan kenaikan 5% pada akhir pekan lalu (30/1/2026) menuju posisi US$ 117 per ton. Secara akumulatif, harga telah melesat 11% sejak awal tahun. Sentimen positif ini juga didorong oleh lonjakan permintaan dari China, yang secara mengejutkan tetap menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga batubara meskipun sedang gencar mengampanyekan energi terbarukan.

Tiga Emiten "Safe Haven" di Tengah Pemangkasan Produksi

Meski mayoritas produsen harus rela produksinya dipangkas, analisis menunjukkan ada tiga emiten yang berada di zona aman dan berpotensi meraih keuntungan maksimal dari kenaikan harga tanpa harus kehilangan volume penjualan:

PT Bumi Resources Tbk (BUMI): Menjadi raksasa yang paling stabil karena dua aset utamanya, Kaltim Prima Coal (54 juta ton) dan Arutmin Indonesia (20 juta ton), tidak terkena pengurangan kuota. Dengan total output sekitar 74 juta ton, BUMI memimpin skala produksi nasional.

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI): Meskipun salah satu anak usahanya mengalami pemangkasan 50%, secara agregat grup ini masih mampu menjaga level produksi di kisaran 65 juta ton. Stabilitas di tambang utama membuat dampak kebijakan ini relatif terbatas bagi AADI.

PT Indika Energy Tbk (INDY): Melalui anak usahanya, Kideco, INDY diperkirakan tetap memproduksi sekitar 30 juta ton batubara bituminous rendah sulfur. Fokus pada spesifikasi produk tertentu membuat INDY tetap kompetitif di pasar ekspor.

Dilema Kinerja Keuangan: Antara Ekspansi Pendapatan dan Tekanan Laba

Meskipun secara operasional ketiga emiten tersebut cukup tangguh, kondisi laporan keuangan mereka menunjukkan dinamika yang berbeda. BUMI tampil menonjol dengan pertumbuhan pendapatan sebesar +15,7% (yoy) hingga September 2025, menjadikannya satu-satunya yang mencatat ekspansi top line. Namun, lonjakan pendapatan ini belum berbanding lurus dengan laba bersih yang justru terkoreksi dalam, mengindikasikan adanya tekanan pada biaya operasional.

Di sisi lain, INDY dan AADI masih berjuang melawan sisa-sisa tekanan harga batubara dari periode sebelumnya. INDY mencatatkan penurunan pendapatan 16,4%, sementara AADI terkontraksi 7,9%. Bagi investor, situasi ini menciptakan anomali pasar di mana emiten dengan produksi stabil justru sedang berada dalam fase efisiensi bottom line.

Valuasi Pasar: Siapa yang Masih Terdiskon?

Melihat dari sisi valuasi, perbedaan mencolok terlihat pada rasio Price to Book Value (PBV). BUMI saat ini diperdagangkan dengan valuasi premium (PBV 3,13x), jauh di atas rata-rata historisnya. Hal ini mencerminkan tingginya ekspektasi investor terhadap dominasi volume produksi BUMI di tahun 2026.

Sebaliknya, AADI dan INDY menawarkan valuasi yang lebih konservatif. AADI bahkan tercatat sebagai yang paling murah secara relatif dengan PBV di bawah rerata 5 tahun. Bagi investor jangka panjang, kondisi ini membuka peluang masuk pada harga yang masih terdiskon, terutama jika reli harga batubara dunia berlanjut sebagai dampak langsung dari kebijakan pengetatan RKAB 2026 ini.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index