JAKARTA - Perubahan dinamika atmosfer kembali menjadi perhatian di wilayah Nusa Tenggara Barat.
Dalam beberapa hari ke depan, kondisi cuaca diperkirakan tidak bersahabat akibat peningkatan kecepatan angin permukaan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan agar masyarakat lebih waspada, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruang dan kawasan pesisir.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer regional dan global. Kecepatan angin yang cukup signifikan dinilai berpotensi menimbulkan dampak lanjutan, mulai dari gangguan aktivitas transportasi hingga risiko keselamatan masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman terhadap penyebab dan potensi bahayanya menjadi hal penting.
Angin Permukaan Diprediksi Menguat
BMKG menyampaikan bahwa arah angin di wilayah NTB bertiup dari barat daya hingga barat laut. Kecepatan maksimum angin permukaan diprakirakan mencapai 40 kilometer per jam. Kondisi ini dinilai cukup kuat untuk memicu berbagai dampak, terutama pada wilayah terbuka dan perairan.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG NTB, Satria Topan Primadi, menjelaskan bahwa pola angin tersebut terpantau melalui hasil analisis dinamika atmosfer terkini. Kecepatan angin yang meningkat tidak hanya terjadi sesaat, melainkan diperkirakan berlangsung dalam periode tertentu. Karena itu, kewaspadaan perlu ditingkatkan sejak dini.
Pengaruh Tekanan Rendah di Samudera Hindia
Salah satu faktor utama yang memicu angin kencang di NTB adalah keberadaan pusat tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah selatan perairan NTB. Pusat tekanan rendah ini memengaruhi pola aliran angin di sekitarnya. Perubahan tekanan udara tersebut menyebabkan pergerakan massa udara yang lebih kuat.
BMKG menjelaskan bahwa perbedaan tekanan antara wilayah bertekanan tinggi dan rendah semakin menguat. Secara alami, udara akan bergerak dari daerah bertekanan tinggi menuju daerah bertekanan rendah untuk mencapai keseimbangan. Proses inilah yang memicu angin bertiup dengan kecepatan lebih tinggi dari biasanya.
Peran Monsun Asia Perkuat Aliran Angin
Selain pusat tekanan rendah, fenomena Monsun Asia juga turut berkontribusi terhadap penguatan angin di wilayah NTB. Monsun Asia membawa aliran massa udara dari Laut China Selatan menuju wilayah Indonesia bagian selatan. Aliran udara ini memperkuat arah sekaligus kecepatan angin permukaan.
Menurut BMKG, kombinasi antara pusat tekanan rendah dan Monsun Asia menciptakan kondisi atmosfer yang mendukung terbentuknya angin kencang. Tekanan udara di wilayah NTB tercatat berada di kisaran 1.008 hingga 1.011 milibar. Nilai tersebut menunjukkan adanya gradien tekanan yang cukup signifikan.
Dampak Angin Kencang bagi Aktivitas Masyarakat
BMKG mengingatkan bahwa angin kencang memiliki potensi bahaya yang tidak boleh diabaikan. Salah satu risiko utama adalah tumbangnya pohon, terutama di kawasan permukiman dan jalur transportasi. Kondisi ini dapat mengganggu kelancaran lalu lintas dan membahayakan pengguna jalan.
Pengendara sepeda motor juga diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat melintasi jalan terbuka seperti jalur bypass yang menghubungkan Kota Mataram dengan Kabupaten Lombok Tengah. Hembusan angin kuat dapat mengganggu keseimbangan kendaraan dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Gelombang Tinggi Ancam Perairan NTB
Tak hanya di daratan, dampak angin kencang juga dirasakan di wilayah perairan. BMKG telah menerbitkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi di seluruh perairan NTB. Tinggi gelombang diprakirakan dapat mencapai dua meter atau lebih dan masuk kategori sedang.
Gelombang setinggi ini dinilai berbahaya bagi aktivitas pelayaran, khususnya perahu nelayan dan kapal tongkang. Kondisi laut yang tidak stabil dapat meningkatkan risiko kecelakaan laut. Oleh karena itu, nelayan dan pelaku transportasi laut diimbau untuk menunda aktivitas jika kondisi tidak memungkinkan.
Imbauan BMKG untuk Masyarakat Pesisir
BMKG secara khusus mengingatkan masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah pesisir agar selalu waspada. Gelombang tinggi dan angin kencang dapat terjadi secara bersamaan, sehingga meningkatkan potensi bahaya. Masyarakat diharapkan memantau informasi cuaca terkini secara berkala.
Satria Topan Primadi menegaskan bahwa peringatan dini ini bertujuan untuk meminimalkan risiko dan kerugian. Dengan meningkatkan kewaspadaan, masyarakat dapat mengambil langkah antisipatif, seperti mengamankan barang, menghindari aktivitas berisiko, serta mengikuti arahan dari pihak berwenang.
Kondisi cuaca ekstrem merupakan bagian dari dinamika alam yang tidak dapat dihindari. Namun, kesiapsiagaan dan kepatuhan terhadap peringatan cuaca menjadi kunci utama untuk menjaga keselamatan. BMKG mengajak seluruh lapisan masyarakat di NTB untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan hingga kondisi cuaca kembali normal.